
Tak usah mencari jauh-jauh di sekeliling kita dengan mudah kita bisa temui orang-orang yang berpikir dengan hati. Ya, dengan hati bukan dengan pikiran. Mereka adalah orang-orang yang merasa bahwa diri mereka yang sebenarnya memang berada di hati mereka, bukan apa yang mereka pikirkan.
Mereka adalah orang-orang yang cenderung membuat keputusan dan bertindak berdasarkan apa yang mereka rasakan, bukan apa yang mereka pikir paling rasional.
Ciri utama orang yang berpikir dengan hati adalah mereka adalah orang-orang yang emosional secara alami. Penelitian bahkan menemukan bahwa mereka bahkan biasa membahas masalah yang kontroversial hingga memutuskan untuk terlibat dalam kegiatan donasi atau tidak berdasarkan apa yang mereka rasakan pas.
Berikut beberapa ciri lain orang yang ‘berpikir’ dengan hati, seperti disarikan dari Huffington Post :
1. Mudah emosional.
Bukan hanya mudah terbawa perasaan mereka adalah juga orang yang tak malu-malu menunjukkan apa yang mereka rasakan. Misalnya saja menangis. Mereka juga tak hanya mudah menangis dalam kondisi sedih atau terharu, tapi juga di tengah adu argumen, bahkan juga saat mendapatkan kejutan.
2. Butuh waktu untuk membuat keputusan.
Jangan menuntut logika pada mereka. Tak peduli seberapa rasional sekalipun pilihannya, mereka mungkin tak akan mengambil pilihan itu jika mereka ‘merasa’ tidak sepakat dengan pilihan itu. Meski mereka juga tahu perasaan seringkali bisa menipu. Sebuah penelitian terhadap orang-orang tipe ini menunjukkan mereka membuat keputusan berdasarkan emosi mereka. Jadi selain mereka butuh waktu untuk membuat keputusan, mereka juga akan teguh pada keputusan mereka karena yakin hati mereka berkata demikian.
3. Sangat empatik secara ekstrem.
Jika Anda merasakan hari yang buruk? Penuh stres? Biasanya orang yang ‘berpikir’ dengan hati akan dengan mudah mengenali dan memahami perasaan Anda. Sebuah penelitian menyebutkan ada kemungkinan orang-orang sensitif seperti ini punya saraf yang mengatur empati lebih tebal di otak mereka.
4. Selalu mengatakan apa yang mereka rasakan.
Karena cara ini lah yang mereka pahami tentang bagaimana mengaitkan diri dengan orang lain. Berdasarkan penelitian, mereka orang-orang yang sangat suka menikmati keintiman dalma fungsi interpersonal, seperti mendiskusikan emosi lebih dari sekadar apa yang dipikirkan orang-orang.
5.Cenderung ekstrovert.
Penelitian membuktikan bahwa orang yang ‘berpikir’ dengan hati mengelompokkan diri mereka sebagai orang yang hangat dalam hubungan interpersonal. Merena memandang tinggi nilai kebersamaaan dalam kelompok sosial. Pola ini menunjukkan fakta yang bertolak belakang dengan orang yang mengandalkan otak yang cenderung punya kebanggaan luar biasa terhadap diri sendiri dan lebih mandiri dan merdeka.
6. Mudah terserang stres.
Orang yang ‘berpikir’ dengan hati juga cenderung mudah merasakan emosi negatif. Dalam arti kesalahan kerja yang kecil atau sindiran halus bisa berdampak besar bagi mereka. Ini adalah sisi negatif pada diri mereka, terutama karena stres bagaimanapun buruk untuk kesehatan.
7. Mereka orang-orang yang sangat intuitif.
Entah bagaimana mereka orang yang dengan mudah menemukan ada sesuatu yang salah, bahkan meski orang-orang logis disekitarnya mengatakan semua akan baik-baik saja. Orang yang ‘berpikir’ dengan hati mengidentifikasikan diri sebagai orang yang perseptif, boleh jadi karena mereka sebenarnya orang yang sangat emosional.
8. Suka membuat orang lain senang.
Saat meneliti tentang dua pola perilaku, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang ‘berpikir’ dengan hati, adalah orang yang dengan mudah selalu setuju dnegan pendapat orang lain. Seringnya hal ini dilakukan untuk menyenangkan orang lain. Karenanya orang-orang seperti ini mungkin harus sering diingatkan
untuk lebih memperhatian diri merkea sendiri, tak melulu memenuhi kebutuhan orang lain.
9. Mereka bisa merasakan banyak hal dan bertindak berdasarkan perasaan itu.
Saat merasakan kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, orang-orang yang berpikir dengan hati, bisa merasakan semua itu sedalam-dalamnya tanpa mudah atau cepat teralihkan dengan hal lain. Ketika orang logis menganggap hasil pemikiran sebagai petunjuk bertindak, mereka lebih menggunakan perasaan sebagai kompas.
Pernikahan yang Sah Bisa Jadi Haram Meski Sudah Ijab Qabul, Ini Alasannya
6 Okt 2021 | 1692
Ulama ahli tafsir Indonesia KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengungkap sebuah pernikahan bisa jadi haram. Menurut Gus Baha, ...
Membangun Tim Solid dan Loyalitas Pelanggan Berbasis Lokasi yang Efektif Tahun 2026
4 Apr 2026 | 23
Keberhasilan organisasi modern sangat tergantung pada integrasi antara tim internal yang solid dan loyalitas pelanggan. Kedua elemen ini saling melengkapi, membentuk fondasi pertumbuhan ...
Mengapa Moto Al Masoem dan Panca Waluya Bisa Menjadi Panduan dalam Pendidikan?
6 Mei 2025 | 364
Pendidikan di era modern ini tidak hanya membutuhkan kurikulum yang relevan, tetapi juga nilai-nilai moral dan etika yang kuat. Di Banda, khususnya di pesantren modern di Bandung seperti ...
29 Jan 2026 | 90
Pendidikan kewarganegaraan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kesadaran berbangsa peserta didik. Mata pelajaran Kewarganegaraan ...
Pesantren Tak Lagi Menyeramkan: Ini Bukti Pesantren Bisa Ramah Anak
13 Jun 2025 | 308
Pada era kini, banyak stigma atau anggapan negatif yang melekat pada pesantren, terutama di kalangan masyarakat urban. Banyak yang beranggapan bahwa pesantren merupakan tempat yang ketat, ...
Hikmah yang Dapat Diambil Dari Beberapa Cerita Humor Abu Nawas
22 Mei 2020 | 8393
Membaca sebuah kisah memang sangat menyenangkan, apalagi jika isinya berkaitan dengan keIslaman. Selain bisa menambah tingkat keimanan juga dapat menggembirakan hati, salah satunya yakni ...